Unggahan Lelang Keperawanan di Twitter, Mengapa Warganet Tertarik Lakukan Prank?

301

Gudanggames.net – Topik perihal # keperawanan ramai di media sosial dan bahkan menjadi trending topic di Twitter pada Kamis (21/5/2020).

Adapun topik ini ramai dibicarakan lantaran adanya publik figur yang mengunggah video dengan menyatakan dirinya melelang keperawanannya seharga Rp 2 miliar untuk membantu penanganan Covid-19 di Indonesia.

Terkait hal ini, sejumlah warganet lainnya pun berkomentar tidak setuju terhadap apa yang dilakukan oleh publik figur tersebut. “Niatnya baik ingin bantu. Tapi jalannya buntu. #keperawanan,” tulis akun @Mi73554599 dalam twitnya.

“Lelang # KEPERAWANAN saat pandemi? Pansos lu norak manusia,” tulis akun @nabildaffany dalam twitnya.

Sejauh ini, topik #keperawanan tersebut telah dibahas sebanyak 7.534 kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Sadar akan hal yang dilakukannya keliru, publik figur tersebut mengunggah klarifikasi dan meminta maaf kepada warganet atas lelang keperawanan yang diunggahnya tersebut.

Selain itu, publik figur lain pun cenderung melakukan hal serupa, seperti Indira Kalistha yang mengaku jarang memakai masker dan tidak mencuci tangan setelah memegang benda apa pun.

Berangkat dari fenomena tersebut, sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah menyampaikan, tindakan prank lelang keperawanan dapat dilihat dengan menggunakan beberapa sudut pandang.

“Secara sosiologis tindakan prank tersebut bisa masuk ke dalam tipe tindakan rasional bertujuan. Tindakan tersebut lebih mementingkan tujuan daripada cara yang ditempuh,” ujar Siti, Kamis (21/5/2020).

Ia menjelaskan, publik figur tersebut memiliki tujuan yang hendak dicapai untuk membantu warga terdampak wabah pandemi dapat dinilai positif.

Hal ini dikarenakan berderma dan memberi adalah bentuk solidaritas sosial.
“Hanya saja cara yang ditempuh dengan lelang keperawanan tentu akan terbentur pada norma dan nilai masyarakat timur khususnya yang menganggap keperawanan adalah yang sangat berharga, sehingga melelangnya jelas bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat,” terang Siti.

Oleh karena itu, Siti mengungkapkan bahwa dalam dalam kacamata sosiologis jelas tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan.

Sementara itu, topik lelang keperawanan juga dapat dilihat dengan menggunakan perspektif struktural di mana prank tersebut merupakan salah satu cara dari bentuk respons masyarakat atas situasi saat ini yang tidak menentu.

“Respons dalam bentuk prank tersebut bisa jadi adalah bentuk perlawanan simbolis masyarakat terhadap pemerintah yang dianggap tidak capable dalam menangani pandemi Covid-19 maupun dampak sosial, ekonomi akibat pandemi tersebut,” ujar Siti.

Kondisi inilah yang kemudian memicu keresahan masyarakat semakin menjadi melihat segelintir elit politik mengesahkan kebijakan yang justru kontraproduktif dengan situasi hari ini.

Menurutnya, situasi yang serba tidak pasti dan cenderung tidak serius menangani pandemi beserta dampaknya tersebut membuat masyarakat menyuarakannya dalam bentuk aksi prank yang terkesan abnormal dan aneh-aneh.

Di sisi lain, kehadiran prank yang “nyleneh” ini dapat pula dilihat secara sederhana sebagai bentuk konspirasi dari pihak yang bersangkutan untuk menaikkan popularitasnya.

Siti mengungkapkan, pandemi tidak hanya memberikan dampak di bidang kesehatan, melainkan di bidang ekonomi.

“Bagaimanapun banyak jenis pekerjaan yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi ini, sehingga ide kreatif akan banyak bermunculan, termasuk membuat konten prank di media sosial,” kata Siti.

“Alih-alih mendapatkan apa yang dia inginkan, justru respons negatif dari netizen yang dituainya,” lanjut dia.

Selain itu, pada unggahan video yang memperlihatkan komentar Indira Kalistha terkait dirinya yang jarang pakai masker dan enggan mencuci tangan, merupakan bagian dari respons terhadap gagapnya pemerintah menghadapi pandemi ini. Siti mengatakan, mereka protes dengan cara demikian, dengan harapan protes tersebut, apalagi diunggah lewat medsos akan mendapat perhatian publik, dan tentu pemerintah. Dengan begitu maka pemerintah atau para pengambil kebijakan mampu untuk memperbaikinya.

“Bisa juga ini respons dari wacana pemerintah tentang new normal yang juga akan memberikan peluang tafsir yang beragam dari masyarakat. Bisa jadi tafsir bahwa situasi normal akan datang kembali menjadi penyebab munculnya konten tersebut,” ujar Siti.

Terkait wacana new normal, Siti beranggapan, akan ada tafsir-tafsir lainnya yang akan muncul di tengah liarnya sumber informasi yang dimungkinkan akan dicerna dengan cara yang berbeda-beda.

“Saya kira wakil rakyat bisa menjalankan fungsinya jauh lebih baik hari ini untuk menyerap semua bentuk respon dan aspirasi masyarakat hari ini, tentu disertai dengan dialog dan diskusi yang jelas,” imbuhnya.